Pada
tahun 2015 mendatang, sedikitnya 40 penulis Indonesia akan diundang hadir dalam
perhelatan Frankfurter Buchmesse. Dalam pameran akbar sastra dunia itu, penyair
sekaligus penulis buku Goenawan Mohamad akan bertanggung jawab untuk program
budaya dalam Frankfurter Buchmesse.
Dengan
menjadi tamu kehormatan Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) literatur
Indonesia memasuki terobosan baru. Selama ini, sastra Indonesia hampir tidak
dikenal dalam industri literatur di dunia. Namun, pasar buku Indonesia yang
berpenduduk 240 juta orang ini sekarang diakui sebagai pasar menarik.
Pada
acara perkenalan Indonesia di Frankfurter Buchmesse Ketua pameran buku
internasional Frankfurter Buchmesse, Jürgen Boos dalam sambutannya seperti di
kutip dari dw.de (12/10) mengatakan: "Kini tantangan terbesarnya adalah, mencari
penerjemah sastra ke bahasa Jerman.“
Sementara
itu, Sekjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ainun Na'im
mengatakan, pihaknya ingin memperlihatkan kepada internasional kekayaan budaya Indonesia
lewat Frankfurt Book Fair. Selama ini, Indonesia memiliki beragam suku dan
bangsa yang memberikan warna kebudayaan Indonesia. Sebagai negara
multikultural, diyakini banyak negara yang tertarik untuk mempelajari Indonesia
lebih jauh lagi.
"Dan
yang lebih penting lagi kekayaan kebudayaan ini menampilkan banyak harmoni,
hubungan antar umat beragama, antar budaya yang berbeda. Kita sebagai
masyarakat multikultural dan multibudaya ini kan bisa hidup bersama dengan
baik," katanya.
Pameran
buku internasional di Jerman ini sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun.
Seteleh perang dunia ke-2, pameran ini dihidupkan kembali dan merupakan
peristiwa besar dalam dunia perbukuan.
Dalam
pameran di Frankfurt, penerbit, penulis, penjual dan agen buku dapat bertatap
muka secara langsung. Tahun 2014, Finlandia terpilih sebagai tamu kehormatan.
Pameran tahun ini diramaikan oleh 7000 peserta pameran dari berbagai penjuru
dunia. Dengan sekitar 280 ribu pengunjung.
Frankfurter
Buchmesse mulai digelar sejak tahun 1949. Pada pertengahan tahun 1970-an, fokus
pameran lebih bersifat tematik. Namun sejak tahun 1980-an, tiap tahun dipilih
tamu kehormatan dari berbagai negara dalam pameran akbar itu. Setelah Indonesia
menjadi tamu kehormatan tahun 2015, Belanda akan menyusul sebagai tamu
kehormatan 2016.(DW.DE)
No comments:
Post a Comment